Pengertian Sel Darah Merah
Sel darah merah merupakan salah satu bagian badan yang sungguh penting. Sel darah merah merupakan salah satu sel penyusun jaringan darah. Di dalam badan, sel darah merah berfungsi selaku pengangkut oksigen. Sel darah merah mempunyai hemoglobin yang bisa mengikat oksigen ke seluruh bagian-bagian badan. Dalam bahasa Yunani erythros berarti merah dan kytos mempunyai arti selubung/sel, jadi seldarah merah disebut juga eritrosit.
Eritrosit secara biasa berisikan hemoglobin, suatu metalloprotein kompleks yang mengandung gugus heme, dimana dalam kalangan heme tersebut, atom besi akan tersambung secara temporer dengan molekul oksigen (O2) di paru-paru dan insang, dan kemudian molekul oksigen ini akan di lepas ke seluruh tubuh. Oksigen dapat secara gampang berdifusi lewat membran sel darah merah. Hemoglobin di eritrosit juga menjinjing beberapa produk buangan seperti CO2 dari jaringan-jaringan di seluruh tubuh. Hampir keseluruhan molekul CO2 tersebut dibawa dalam bentuk bikarbonat dalam plasma darah. Myoglobin, suatu senyawa yang terkait dengan hemoglobin, berperan selaku pembawa oksigen di jaringan otot.
Ketika eritrosit berada dalam tegangan di pembuluh yang sempit, eritrosit akan melepaskan ATP yang akan mengakibatkan dinding jaringan untuk berelaksasi dan melebar. Eritrosit juga melepaskan senyawa S-nitrosothiol dikala hemoglobin terdeoksigenasi, yang juga berfungsi untuk melebarkan pembuluh darah dan melancarkan arus darah agar darah menuju ke daerah badan yang kekurangan oksigen.
Eritrosit juga berperan dalam tata cara kekebalan badan. Ketika sel darah merah mengalami proses lisis oleh patogen atau basil, maka hemoglobin di dalam sel darah merah akan melepaskan radikal bebas yang hendak merusak dinding dan membran sel patogen, serta membunuhnya.
Vertebrata
Warna dari eritrosit berasal dari gugus heme yang terdapat pada hemoglobin. Sedangkan cairan plasma darah sendiri berwarna kuning kecoklatan, namun eritrosit akan berganti warna tergantung pada keadaan hemoglobin. Ketika terikat pada oksigen, eritrosit akan berwarna merah terang dan saat oksigen dilepas maka warna erirosit akan berwarna lebih gelap, dan akan menyebabkan warna kebiru-biruan pada pembuluh darah dan kulit. Metode tekanan oksimetri menerima keuntungan dari pergeseran warna ini dengan mengukur kebosanan oksigen pada darah arterial dengan menggunakan teknik kolorimetri.
Pengurangan jumlah oksigen yang menjinjing protein di beberapa sel tertentu (daripada larut dalam cairan badan) yaitu satu tahap penting dalam evolusi makhluk hidup bertulang belakang (vertebratae). Proses ini menimbulkan terbentuknya sel darah merah yang mempunyai viskositas rendah, dengan kadar oksigen yang tinggi, dan difusi oksigen yang lebih baik dari sel darah ke jaringan badan. Ukuran eritrosit berlainan-beda pada tiap spesies vertebrata. Lebar eritrosit kurang lebih 25% lebih besar dibandingkan dengan diameter pembuluh kapiler dan sudah disimpulkan bahwa hal ini mengembangkan pertukaran oksigen dari eritrosit dan jaringan tubuh.
Vertebrata yang dikenali tidak memiliki eritrosit yaitu ikan dari familia Channichthyidae. Ikan dari familia Channichtyidae hidup di lingkungan air dingin yang mengandung kadar oksigen yang tinggi dan oksigen secara bebas terlarut dalam darah mereka.. Walaupun mereka tidak memakai hemoglobin lagi, sisa-sisa hemoglobin dapat dijumpai di genom mereka.
Pada mamalia, eritrosit cukup umur tidak memiliki nukleus di dalamnya (disebut anukleat), kecuali pada binatang vertebrata non mamalia tertentu seperti salamander dari genus Batrachoseps. Konsentransi asam askorbat di dalam sitoplasma eritrosit anukleat tidak berlainan dengan fokus vitamin C yang terdapat di dalam plasma darah. Hal ini berlainan dengan sel darah yang dilengkapi inti sel atau sel jaringan, sehingga mempunyai fokus asam askorbat yang jauh lebih tinggi di dalam sitoplasmanya.
Rendahnya daya tampung eritrosit kepada asam askorbat disebabkan sebab sirnanya transporter SVCT2 ketika eritoblas mulai beranjak cukup umur menjadi eritrosit. Meskipun demikian, eritrosit memiliki daya cerap yang tinggi terhadap DHA melalui transporter GLUT1 dan mereduksinya menjadi asam askorbat.
Mamalia
Pada awal pembentukannya, eritrosit mamalia memiliki nuklei, namun nuklei tersebut akan perlahan-lahan menghilang alasannya tekanan saat eritrosit menjadi akil balig cukup akal untuk memberikan ruangan terhadap hemoglobin. Eritrosit mamalia juga kehilangan organel sel lainnya seperti mitokondria. Maka, eritrosit tidak pernah memakai oksigen yang mereka antarkan, namun condong menghasilkan pembawa energi ATP lewat proses fermentasi yang diadakan dengan proses glikolisis pada glukosa yang dibarengi pembuatan asam laktat. Lebih lanjut lagi bahwa eritrosit tidak memiliki reseptor insulin dan pengambilan glukosa pada eritrosit tidak dikontrol oleh insulin. Karena tidak adanya nuklei dan organel yang lain, eritrosit cukup umur tidak mengandung DNA dan tidak mampu mensintesa RNA, dan hal ini menciptakan eritrosit tidak bisa membelah atau memperbaiki diri mereka sendiri.
Eritrosit mamalia berbentuk pecahan bikonkaf yang diratakan dan diberikan tekanan di bagian tengahnya, dengan bentuk seperti “barbel” kalau dilihat secara melintang. Bentuk ini (setelah nuklei dan organelnya dihilangkan) akan mengoptimisasi sel dalam proses pertukaran oksigen dengan jaringan badan di sekitarnya. Bentuk sel sungguh fleksibel sehingga muat saat masuk ke dalam pembuluh kapiler yang kecil. Eritrosit biasanya berbentuk bundar, kecuali pada eritrosit di keluarga Camelidae (unta), yang berupa oval.
Pada jaringan darah yang besar, eritrosit adakala timbul dalam tumpukan, tersusun bersampingan. Formasi ini umumdisebut roleaux formation, dan akan timbul lebih banyak saat tingkat serum protein dinaikkan, seperti acuan ketika peradangan terjadi. Limpa berperan sebagai waduk eritrosit, tetapi hal ini dibatasi dalam badan insan. Di beberapa binatang mamalia, mirip anjing dan kuda, limpa menghemat eritrosit dalam jumlah besar, yang hendak dibuang pada kondisi bertekanan, dimana proses ini akan menciptakan kapasitas transpor oksigen yang tinggi.
Manusia
Kepingan eritrosit manusia mempunyai diameter sekitar 6-8 μm dan ketebalan 2 μm, lebih kecil ketimbang sel-sel yang lain yang terdapat pada badan manusia. [13] Eritrosit normal mempunyai volume sekitar 9 fL (9 femtoliter) Sekitar sepertiga dari volume diisi oleh hemoglobin, total dari 270 juta molekul hemoglobin, dimana setiap molekul membawa 4 gugus heme.
Orang sampaumur memiliki 2–3 × 1013 eritrosit setiap waktu (wanita memiliki 4-5 juta eritrosit per mikroliter darah dan laki-laki mempunyai 5-6 juta. Sedangkan orang yang tinggal di dataran tinggi yang mempunyai kadar oksigen yang rendah maka cenderung untuk memiliki sel darah merah yang lebih banyak). Eritrosit terkandung di darah dalam jumlah yang tinggi daripada partikel darah lainnya, mirip misalnya sel darah putih yang hanya memiliki sekitar 4000-11000 sel darah putih dan platelet yang cuma memiliki 150000-400000 di setiap mikroliter dalam darah insan.
Pada insan, hemoglobin dalam sel darah merah memiliki peran untuk mengirimkan lebih dari 98% oksigen ke seluruh badan, sedangkan sisanya terlarut dalam plasma darah. Eritrosit dalam tubuh insan menyimpan sekitar 2.5 gram besi, mewakili sekitar 65% kandungan besi di dalam badan insan.
Daur hidup Sel Darah Merah
Proses dimana eritrosit dibuat dinamakan eritropoiesis. Secara terus-menerus, eritrosit diproduksi di sumsum tulang merah, dengan laju bikinan sekitar 2 juta eritrosit per detik (Pada embrio, hati berperan sebagai sentra buatan eritrosit utama). Produksi mampu distimulasi oleh hormon eritropoietin (EPO) yang disintesa oleh ginjal. Hormon ini sering dipakai dalam kegiatan olahraga sebagai doping. Saat sebelum dan setelah meninggalkan sumsum tulang belakang, sel yang meningkat ini dinamai retikulosit dan jumlahnya sekitar 1% dari seluruh darah yang beredar. Eritrosit dikembangkan dari sel punca melalui retikulosit untuk mendewasakan eritrosit dalam waktu sekitar 7 hari dan eritrosit remaja akan hidup selama 100-120 hari.
Kelainan Sel Darah Merah
Morfologi sel darah merah yang normal adalah bikonkaf. Cekungan (konkaf) pada eritrosit digunakan untuk menunjukkan ruang pada hemoglobin yang mau mengikat oksigen. Tetapi, polimorfisme yang menyebabkan keganjilan pada eritrosit dapat menyebabkan munculnya banyak penyakit. Umumnya, polimorfisme disebabkan oleh mutasi gen pengkode hemoglobin, gen pengkode protein transmembran, ataupun gen pengkode protein sitoskeleton. Polimorfisme yang mungkin terjadi antara lain yaitu anemia sel sabit, Duffy negatif, Glucose-6-phosphatase deficiency (defisiensi G6PD), talasemia, kelainan glikoporin, dan South-East Asian Ovalocytosis (SAO).
Karakter Sel Darah Merah
Berikut abjad sel darah merah :
a. bentuk bulat bikonkaf dengan lekukan pada bab tengah (diameter 7,65 mikrometer), tidak mempunyai nukleus.
b. membran sel dengan permeabilitas tinggi, elastis dan fleksibel sehingga mampu menembus kapiler
c. setiap sel eritrosit mengandung 300 juta molekul hemoglobin yang berfungsi ;
– mengikat oksigen membentuk oksihemoglobin yang berwarna merah terang
– bila oksigen dilepas menjadi deoksihemoglobin atau hemoglobin tereduksi yang berwarna merah gelap atau merah kebiruan.
– hemoglobin berikatan dengan karbondioksida membentuk karbominoglobin. Hemoglobin cuma dipakai sekitar 20% untuk pengangkutan CO2, 80% lagi CO2, terlarut dalam plasma dalam bentuk ion bikarbonat.
d. jumlah sel darah merah wajar :
– laki-laki sampaumur 4,2 – 5,5 juta sel/mm3
– perempuan cukup umur 3,2 – 5,2 juta sel/mm3
– hematokrit : prosentase volume darah total yang mengandung eritrosit. Ditentukan lewat proses sentrifugasi
– laju endap/sedimentasi darah kecepatan pengendapan darah tanpa lewat sentrifugasi.
e. bersirkulasi selama 120 hari
– sel darah merah yang rusak difagosit oleh makrofag dalam limfa, hati dan sumsum tulang
akan terurai menjadi :
– globin : bagian protein yang hendak menjadi asam amino dan akan diperbaharui dalam proses sintesis seluler
– hem : bagian yang mengandung zat besi diubah menjadi biliverdin (pigmen hijau) kemudian menjadi bilirubin pigmen kuning) yang dilepas ke dalam plasma. bilirubin diserap oleh hati dan disekresikan ke cairan empedu.
Demikianlah artikel dari pengajar.co.id, supaya artikel ini dapat bermanfaat.
